FAKTA DAN KHAYAL DALAM SASTRA SEJARAH CERMIN KEHIDUPAN – KARTINI

28 Jun

  1. 1.      RESUME SASTRA (referensi lainnya: Panggil Aku Kartini Saja) 

Kartini, atau Raden Ajeng Kartini merupakan seorang putri kelima dari sebelas bersaudara. Kakek Kartini adalah seorang Bupai Demak, sedangkan Ayahnya R.M Adipati Aryo Sosroningrat adalah Bupati Jepara. Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, tepatnya di gedung keasstenwedaan, dan menjadi anak keturunan bangsawan.

Ayah Kartini sangat peduli terhadap pendidikan. Ia disekolahkan Ayahnya ke sekolah Belanda rendah sedangkan kakak-kakaknya paling rendah disekolahkan sampai mendapat ijazah H.B.S.

Ketika masuk sekolah, Kartini terkadang mendapat ejekan dan cemooh dari teman-temannya yang adalah keturunan Belanda, terlihat dalam tulisannya Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tapi kami berusaha maju kemudian mereka mengambil sikap menantang terhadap kami. Pada masanya, anak yang boleh bersekolah hanyalah anak dari keturunan Bangsawan, yang kebanyakan adalah laki-laki namun untuk anak perempuan, hal ini sebenarnya sudah melanggar adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat Jawa. Namun kembali lagi, Ayah Kartini menyekolahkannya adalah untuk membuatnya setidaknya mengerti mengenai bahasa dan adat istiadat Jawa.

Suaru hari Kartini ditanyai oleh teman-temannya, ingin menjadi apakah ia kelak? Namun hal itu tidak dapat dijawab olehnya. Sepulangnya ia dari sekolahnya, ia bertanya pada ayahnya: “Akan menjadi apakah aku kelak Ayah?”. Sang Ayah hanya bisa tersenyum. Kakaknyalah yang kemudian menjawab, bahwa ia kelak akan menjadi seorang Raden Ayu. Ia mendengar sepertinya sangat istimewa sekali jika ia menjadi Raden Ayu. Sejak saat itu ia mulai mengamati tentang kehidupan seorang Raden Ayu, namun akhirnya didapatinya kenyataan  bahwa seorang Raden Ayu tidaj seperti yang dipikirkannya, namun lebih banyak dukanya daripada sukanya.

Ia tidak ingin menjadi Raden Ayu. Ia ingin tetap melanjutkan sekolahnya. Tetapi adat istiadat Jawa tidak mengizinkan seorang perempuan sekolah terus menerus, sehingga akhirnya dia harus merelakan bangku sekolahnya digerogoti oelh adat yang begitu tidak bisa diterima oleh akal sehatnya. Ia harus kembali ke rumah, menjadi gadis pingitan pada usianya ke 12 tahun.

Kartini mencoba berbicara dengan Ayahnya, namun apalah daya seorang gadis yang sedang tumbuh menjadi dewasa, Ayahnya tetap tidak mengizinkan Kartini melanjutkan sekloahnya apalagi sampai harus ke Semarang mengikut kakaknya bersekolah di H.B.S. tidak diizinkanya Kartini untuk melanjutkan sekolahnya, tidak menyulutkan semangatnya dalam mengejar ilmu pendidikan yang ada. Ia mencoba belajar secara otodidak walau hal ini akhirnya berbuah sia-sia belaka, ia tidak dapat mengerti akan pelajarannya tanpa bantuan seorang guru.

Niat melanjutkan sekolah tidak hanya datang dari diri Kartini saja, tetapi juga dari kedua adik perempuanya, Rakmini dan Kardinah. Mereka bertiga akhirnya bercita-cita memperjuangkan kehidupan yang lebih baik lagi bagi perempuan Bumiputra, yang masih diikat oleh adat istiadat yang sangat kuat. Rakmini ingin membuka sekolah untuk gadis-gadis agar bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik dengan mengajarkan berbagai keterampilan dan cara-cara menghemat.

Mereka berkeinginan keras melanjutkan sekolah ke negeri Belanda. Namun Tn. Abendanon menyarankan kepada Kartini agar tidak pergi bersekolah ke Negeri yang jauh, melainkan cukup belajar di Jakarta. Karena jika Kartini bersekolah ke Belanda, akan dapat menimbulkan prasangka yang buruk terhadap Kartini, yang tujuannya adalah untuk memajukan pendidikan di Jawa, khususnya dan untuk perempuan pribumi.

Berbagai cara dilakukan Kartini agar cita-citanya menjadi guru, mengajarkan berbagai-bagai hal dapat terwujud secepatnya. Ia bahkan meminta bantuan kepada Tuan H. H van Kol dengan mengajukan rakes, agar diberikan bantuan dana untuk dapat belajar di Belanda. Selama menunggu jawaban dari pemerintahan Belanda, akhirnya sekolah kecil dibangun di Kabupaten Jepara yang mengajarkan membaca, menulis, beberapa pengetahuan, serta pelajaran memasak dan menjahit.

Rakes yang diajukan itu kemudian dijawab juga dan dananya memang akan dipakainya untuk pergi ke Belanda. Namun sayang beribu sayang, harapan Kartini untuk dapat melanjutkan sekolah, harus dikuburnya dalam-dalam karena ahkirnya sang calon suami, Raden Adipati Jojo Adiningrat; bupati Rembang; datang jua menjemputnya. Pernikahan \nya dilaksanakan tanggal 9 November 1903. Uang yang telah diperolehnya itu diserahkan kepada Haji Agus Salim; digunakannya sebagai dananya untuk melanjutkan sekolahnya

Kartini akhirnya pindah ke Rembang, bersama suaminya; tugasnya sekarang adalah untuk menjadi ibu rumah tangga. Walaupun pada awalnya ia tidak menyukai semua adat istiadat yang berlaku namun akhirnya ia memang tetap harus menjalani hal yang serupa seperti yang dirasakan semua perempuan Jawa. Dimana seoramg perempuan tidak diizinkan untuk bersekolah. Kemudian seorang perempuan harus dipingit; menjadi wanita “rumahan”, menjaga sikapnya; tidak dibenarkan berjalan cepat tetapi harus perlahan dan langkahnya kecil-kecil, berbicara harus sopan dan santun; ia harus menunggu siapa pria yang akan menjadi suaminya kelak. Ia akan menikah tanpa mengenal terlebih dahulu siapa dan bagaimana pria tersebut. Sesuatu yang sangat ditentangnya sampai akhir hayatnya walaupun terpaksa jua ia menjalaninya.

Ia sebenarnya berharap, jika setiap perempuan dapat bersekolah, tentulah perempuan akan menjadi bijaksana, pintar dan dapat mencari pekerjaannya sesuai dengan kemampuannya. Sehingga pada akhirnya wanita tidak perlu lagi bergantung pada laki-laki yang menurut Kartini selalu merendahkan martabat wanita; tidak perlu menikah.

Hidup Kartini setelah pernikahanya tidak berlangsung lama lagi. Pada tanggal 13 September 1904, Kartini melahirkan putra pertamanya; alangkah bahagianya ia dapat betul-betul menjadi seorang ibu. Empat hari kemudian, seorang Kartini menginggalkan semuanya, kembali kepada Yang Khalik. Semua cita-cita dan perjuangannya yang telah dikerjakan selama bertahun-tahun tidak dapat lagi ia teruskan.

Setidaknya cita-cita dan perjuangannya terhadap pendidikan bagi perempuan di Jawa berbuah dengan berdirinya beberapa sekolah dan bertambah banyaknya perempuan yang bersekolah. Tidak hanya itu saja, hari lahir Kartini akhirnya dikenang di seluruh penjuru negeri ini, menjadi peringatan pelopor emansipasi wanita di Indonesia.

  1. 2.      FAKTA

Fakta yang terdapat dalam cerita Kartini, Cermin Kehidupan adalah:

  1. Kartini lahir dari keluarga Bangsawan pada tanggal 21 April 1879, anak Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat; menjadi putri anak ke lima dari sebelas bersaudara.
  2. Kartini dan saudara perempuannya yang lain bersekolah di Sekolah Rendah Belanda.
  3. Kartini mempunyai teman pena, orang Belanda, yang juga sahabatnya, tempat ia bercerita, Estella Zeehandelaar.
  4. Kartini begitu mencintai Ayahnya, hal ini terbukti dari surat-surat yang dikirim Kartini kepada Stella dalam bahasa Belanda.
  5. Kartini memperjuangkan pendidikan bagi rakyat Indonesia, khususnya bagi perempuan-perempuan di Jawa.
  6. Kartini tidak menyukai adanya adat istiadat yang begitu ketatnya mengikat hidup orang Jawa, terutama bagi gadis-gadis Jawa yang dirasanya tidak adil.
  7. Pada zaman Kartini bahkan sampai akhir-akhir ini (walaupun tidak begitu banayk lagi), adat yang mengikat perempuan-perempuan Jawa maupun perempuan suku lainnya, sangat dirasakan begitu mengekang, dengan tidak diizinkannya perempuan besekolah, adanya diskriminan gender perempuan dengan laki-laki yang dirasa tidak adil.
  8. Perjuangan Kartini dalam memajukan wanita, hanya sampai di tanah Jawa saja. Walaupun akhirnya menyebar juga ke daerah-daerah lainnya, namun yang pasti perjuangannya sebenarnya hanya sampai di daerah Jawa saja.
  9. Kumpulan surat-surat Kartini tentang kehidupannya dikumpulkan dalam satu buku, Habis Gelap Terbilah Terang.
  1. 3.      KHAYAL

Khayal dalam cerita Cermin Kehidupan Kartini adalah:

  1. Ketika anak baru lahir, tembuni anak tersebut harus ditanam bersama dengan selembar kertas bertuliskan huruf Jawa dan Latinnya, agar kelak menjadi seorang yang terpelajar.
  2. Pada zaman Kartini bersekolah hanya terdapat satu saja sekolah saja.
  3. Kartinilah yang memulai emansipasi wanita di Indonesia, padahal jelas-jelas bahwa Kartini hanya menjadi pelopor pergerakan wanita di Jawa khususnya Jawa Tengah.
  4. Ketika Kartini meninggal, ia didewa-dewakan oleh masyarakat yang mengetahui perjuangannya.
  5. Kartini dianggap sebagai sosok yang paling sempurna yang tiada tandingannya, sebgai seorang pendekar bangsa, padahal jelasnya ia hanya berjuang untuk memberantas adat istiadat bagi perempuan Jawa khususnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: